CARA-CARA UNTUK MENJADI SUKSES
Ada sekian ratus orang (mungkin
lebih) yang sukses di dunia ini tanpa mengantongi gelar kesejanaan dan
ijazah di tangannya. Ketika masa-masa perkuliahan saya, ada banyak teman
dan relasi yang saya kenal yang mengalami hal serupa. Mereka kuliah,
namun memilih untuk tidak menyelesaikannya. Bahkan ada teman yang
berseloroh, “Saya bisa memberi gelar apa saja di belakang namaku..”. Aku
pun tersenyum di buatnya. Ya gelar hanya gelar. Tidak ada yang
istimewa. Semua adalah pilihan pribadi dan tidak ada yang salah. Gelar
bukan merupakan hal utama. Kampus yang sesungguhnya merupakan
universitas kehidupan.
Ada banyak
orang terkenal di dunia pun mengalami hal serupa. Mereka tidak pernah
mendapatkan gelar kesarjanaan dan ijazah dalam hidupnya. Sebut saja Soichiro Honda, seorang berkenegaraan Jepang yang mendirikan perusahaan motor Honda yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sebut juga Conrad Hilton, pendiri Hotel Hilton yang ‘wah’ dan megah itu. Bahkan Bill Gates, pendiri Microsoft, merupakan orang terkaya di dunia dan tidak pernah lulus dari bangku kuliahnya. Atau Paul Allen, yang juga merupakan salah seorang pendiri Microsoft dan sekarang dinobatkan menjadi orang kaya nomor enam menurut Forbes.
Di Indonesia kita juga mengenal sosok Purdi E. Candra,
pendiri Primagama, sebuah bimbingan belajar yang sukses dan telah
memiliki banyak anak cabangnya di seluruh Indonesia. Beliau pernah
mencicipi bangku kuliah tapi memilih untuk tidak melanjutkannya. Atau
juga kita mengenal restoran lezat ‘Ayam Bakar wong Solo’ yang telah
didirikan oleh Puspo Wardoyo pada tahun 1991. Pak Puspo
yang beristerikan empat orang tersebut tidak memiliki ijazah
kesarjanaan, tetapi dia menjadi pengusaha terkenal dengan beberapa
cabang di Indonesia, bahkan telah merambah manca negara seperti negara
Malaysia.
Orang-0rang sukses tanpa mengantongi
ijazah sarjana di tangan mereka telah memberikan pelajaran dan semangat
lain dalam berkarya nyata. Tanpa ijazah pun mereka masih bisa berkarya
dan menorehkan prestasi yang luar biasa di dalam hidupnya. Mereka tidak
pernah malu dan berkecil hati dengan para saingan mereka yang memiliki
ijazah dan gelar kesarjanaan di belakang namanya.
Jika kita mengingat pidato pidato Steve Jobs pada tulisan pertama saya, maka kita akan terusik dengan pernyataan ‘Stay hungry dan stay foolish’
nya. Ada lagi kisah pidato yang saya dapatkan dari sebuah milis yang
dikirimkan oleh seorang teman. Isi pidatonya bagiku sangat menohok dan
membuatku merenung kembali terhadap perjalanan studi yang telah
kutempuh.
Adalah Larry Ellison,orang
terkaya nomor dua di dunia yang menjadi CEO Oracle yang merupakan
perusahaan software terbesar di dunia. Pada wisuda di Yale University
menyampaikan pidatonya yang luar biasa dan membuat hadirin yang datang
terpesona.
Katanya kepada para wisudawan yang hadir, “Sekarang
coba lihat orang-orang yang berada di sekeliling kalian, di samping, di
depan, dan di belakang. Bayangkan apa yang akan terjadi lima tahun, 10
tahun, atau 30 tahun yang akan datang?” tanyanya kepada semua hadirin.
“What can you expect? Loser, loserhood, koser cumlaude?”
“Saya tidak melihat wajah-wajah orang sukses di hadapan saya melainkan wajah ribuan orang yang gagal.”
Katanya lagi, “Saya adalah orang yang
drop out. Bill Gates juga drop out. Paul Allen juga drop out. Michael
Dell, orang kaya nomor sembilan juga begitu. Dan kalian bukanlah
orang-orang yang drop out..
Sesungguhnya, Ellison hendak mengatakan
bahwa ada banyak orang yang gagal dalam menyelesaikan bangku kuliahnya
tetapi mereka menjadi orang besar, terkenal, kaya dan hebat di dunia
dikarenakan kegagalannya tersebut. Kegagalan adalah guru yang terbaik.
Ia mengajarkan kepada seseorang untuk tidak mengulangi kegagalan yang
kedua, ketiga, keempat, atau kesekian. Ada ungkapan mengatakan bahwa
unta saja tidak mau masuk lubang untuk kedua kalinya. Makna selanjutnya
dari pernyataannya tersebut bahwa jika yang drop out saja mampu menjadi
orang hebat, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak drop out dan
telah diwisuda dengan topi dan baju gaun kebanggaan para wisudawan?
Seharusnya orang yang telah diwisuda dan mengantongi gelar kesarjanaan
lebih hebat dari mereka yang telah gagal di bangku perkuliahan. Menohok
sekali pernyataannya ini!
Lanjutnya, “Semua yang kalian
lakukan, kerja keras selama empat sampai lima tahun merupakan hal yang
bagus. Kalian memerlukan relasi, dan kebiasaan kerja keras karena kalian
tidak drop out dari bangku kuliah namun kalian tidak pernah menjadi
orang yang orang yang terkaya di dunia. Mungkin, bisa jadi..” katanya seolah menyindir para wisudawan yang hanya merasa puas telah lulus dan mendapat gelar sarjana.
“Akhirnya, aku menyadari bahwa kalian heran apa yang harus dilakukan? Sesungguhnya kalian sudah terlambat..” lanjutnya.
Pidatonya ini menyiratkan bahwa
sebenarnya seorang sarjana hendaknya memiliki rencana yang baik dalam
hidupnya. Dia harus memiliki arahan kemana dan apa yang harus dilakukan
ke depannya. Tetapi, kenyataannya para wisudawan dan sarjana tidak
memiliki motivasi tersebut secuil pun. Hal ini yang ingin digarisbawahi
olehnya.
“Saya juga ingin menegaskan kepada
adik-adik kelas yang belum lulus. Jika tidak mampu dan tidak memiliki
orientasi yang jelas dalam menuntut ilmu, maka sebaiknya tinggalkan saja
bangku kuliah. Kemasi barang-barang dan idea-idemu. Pergi dan jangan
pernah kembali. Drop out. Mulailah dengan sesuatu yang baru.”
Pernyataan di atas hendak menegaskan
bahwa jika tidak ada orientasi yang jelas di dalam hidup, apalagi
kuliah, mending berhenti saja. Hehe..sebenarnya agak kurang sepakat sih
karena biasanya pendidikan dan bangku kuliah adalah proses. Namun saya
sepakat bahwa kita harus sanggup mengambil keputusan besar, tegas,
konsekuen, dan sanggup menerima segala konsekuensi dari apa yang telah
kita pikirkan, lakukan, dan putuskan.
Di dalam pidato terakhirnya dia mengatakan (lagi-lagi ini sangat menohokku..huahhh), “A cap and gown will keep you down just as surely as theser security guards dragging me off this stage are keeping me dow..”
Let’s think about it..
‘di antara kepingan dan serpihan riset..’